Selamat datang pembaca
di blog saya ini!

Pembaca hendak

Mblusuk


apa, kemana, dan dimana ya

Telaga Warna Dieng
RSS 2.0 Flickr Facebook Twitter Yahoo!

Candi Gunung Wukir


Minggu siang (14/12/2008), saat melihat langit yang cerah sehabis hujan, tiba-tiba perasaan ingin keluyuran ke candi muncul kembali. Aku sempat mengontak Andreas, minta untuk ditemani. Tapi dia menolak karena langit di tempat tinggalnya mendung, dan cerahnya kota Yogyakarta menurut dia pertanda akan hujan. Wah, kalau begini situasinya aku harus mencari lokasi candi yang lain. Tapi dimana? Hampir semua candi di dekat daerah Prambanan sudah kami "jajah". Aku teringat e-mail yang dikirimkan oleh bapakku yang menyebut suatu candi di daerah Magelang, Jawa Tengah. Hmmm...kenapa tidak dicoba saja ya?

Seorang Diri ke Magelang

Candi Gunung Wukir.
(Klik untuk memperbesar).
Seorang diri aku berangkat dari Yogyakarta menuju Magelang, ke sebuah candi yang terletak di Dusun Carikan, Desa Kadiluwih, Kec. Salam, Kab. Magelang, Jawa Tengah. Sebenarnya ada banyak pilihan candi di Kabupaten Magelang yang menarik untuk dijelajahi, semisal Candi Ngawen, Candi Asu, Candi Lumbung, Candi Pawon, dll. Akan tetapi mengingat cuaca, waktu, personil, dan alasan-alasan khusus semisal beberapa candi sudah ada yang di-booking untuk dijelajahi maka candi yang terseleksi pada hari itu adalah Candi Gunung Wukir yang tergolong cukup dekat dari Yogyakarta. Berikut merupakan panduan menuju Candi Gunung Wukir, yang menurut speedometer mobilku berjarak sekitar 22 km dari kota Yogyakarta.

  1. Karena tujuannya ke Magelang, ya ikuti saja Jl. Jogja-Magelang sampai tiba di tugu perbatasan Yogyakarta-Jawa Tengah.

  2. Anda kini berada di propinsi Jawa Tengah, tepatnya di kabupaten Magelang dan di kecamatan Salam. Nah, sekarang tinggal mencari Dusun Carikan di Desa Kadiluwih. Ikuti terus Jl. Jogja-Magelang, sampai anda bertemu dengan Kantor Kecamatan Salam di sisi kiri jalan. Selang beberapa meter setelah kantor tersebut ada pertigaan yang dijaga lampu merah (tepatnya ini lampu merah pertama setelah melewati perbatasan Yogyakarta-Jawa Tengah). Di pertigaan tersebut belok ke kiri.

  3. Anda kini berada di Desa Kadiluwih, tepatnya di Jl. Nglurak. Ikuti terus jalan tersebut sekitar 2 km, anda akan bertemu dengan pertigaan kecil yang di sisi kanan jalannya terdapat toko kelontong "Thimur". Belok ke arah kanan, dan beberapa meter setelahnya ada pertigaan ke arah kiri dimana jalannya tidak beraspal. Ya, belok kiri ke jalan tersebut maka anda akan sampai di Dusun Carikan.


Candi ini tempat sembahyang umat Hindu.


Today's team are: Wisnu, Yuli, Ahmad, and me.


Ciri khas medan untuk candi
yang berada di dalam hutan.



Yoni tanpa lingga di candi induk.


Candi perwara di sisi timur
kondisinya "lumayan" baik.



Arca Nandi yang berada di candi perwara.

Candi di Atas Bukit di Tengah Hutan
Candi Gunung Wukir berada di sebuah, entah apakah itu gunung-gundukan tanah-bukit yang terletak di "belakang" dusun ini. Untuk mencapai kesana, pengunjung harus berjalan kaki, jadi silakan parkirkan kendaraan anda di kediaman warga setempat. Aku memarkir mobil di salah satu rumah warga yang merangkap menjadi bengkel. Ah, merasakan suasana kampung seperti ini jadi teringat saat-saat KKN dulu, karena itu bolehlah ilmu sosialisasi-warga-kampung kupraktekkan lagi. Menurut ibu yang kutemui, untuk menuju Candi Gunung Wukir lebih baik bersama bapak juru kunci yang bernama Pak Widodo. Letak rumahnya tidak jauh dari rumah ibu itu. Tetapi aku urung bertemu Pak Widodo karena sepertinya rumah beliau kosong. Menurut ibu yang kutemui mungkin Pak Widodo kelelahan karena sedari pagi mengikuti pengajian.

Apa boleh buat, aku terpaksa berjalan kaki sendiri ke candi mengikuti petunjuk yang diberikan oleh ibu itu. Tanpa disangka-sangka, beberapa anak dusun ikut menemaniku pergi ke candi. Serasa seperti bersama anak-anak Kebondalem Kidul saja. Untung saja ada anak-anak itu, Ahmad, Yuli, dan Wisnu sehingga aku tidak tersasar ketika menjelajahi hutan bambu. Duh, lagi-lagi harus outbond di hutan, seperti pergi ke Candi Miri saja. Tetapi pemandangan di dusun Carikan juga tidak kalah elok, ada hamparan sawah yang hijau dan sungai yang cocok untuk dijadikan spot fotografi (andai tidak mendung). Singkat cerita setelah berjalan kurang lebih sepuluh menit, sampailah kami ke sebuah kompleks candi yang terletak diatas bukit.

Terawat Baik
Saat pertama kali tiba di kompleks candi itu, pupus sudah bayangan akan candi yang ditumbuhi ilalang. Ada sebuah taman di atas bukit, pos jaga, lengkap dengan papan informasi. Kompleks candi yang dikelilingi oleh hamparan pohon bambu seakan memberi kesan eksklusif, bahwa disini adalah tempat tinggal para dewa. Kenapa kompleks Candi Gunung Wukir bisa seasri ini, mungkin dikarenakan Candi Gunung Wukir adalah candi Hindu tertua di daerah Magelang. Menurut cerita Ahmad, sebelum aku kemari ada beberapa umat Hindu yang bersembahyang disini. Pantas saja kompleks candi ini terawat baik.

Candi Gunung Wukir memiliki satu candi induk yang menghadap ke arah timur dan tiga candi perwara. Di candi perwara yang tepat menghadap ke candi induk, berisi arca Nandi yang merupakan tunggangan Siwa. Candi perwara di kiri dan kanannya, diduga berisi arca angsa (tunggangan Brahma) dan arca garuda (tunggangan Vishnu). Sayang kedua arca tersebut tidak ada. Tidak ada satupun bangunan di kompleks candi ini yang berdiri utuh. Candi induk hanya menyisakan bagian lantainya saja dan sebuah yoni di tengah-tengahnya. Kalau dilihat dari ukurannya, kemungkinan candi induk ini hampir sama besarnya dengan candi induk di Candi Sambisari. Di sekitar candi induk terdapat batu-batu candi yang ditempatkan dengan rapi. Aku tidak menemukan adanya arca lain, yang ada hanya beberapa wadah air semacam lumpang. Mungkin ini terkait dengan upacara sembahyang umat Hindu yang menggunakan air.

Prasasti Canggal
Satu hal yang membuat candi ini berbeda dari candi-candi lainnya adalah candi ini merupakan tempat ditemukannya Prasasti Canggal yang tertanggal 732 Masehi, berhuruf Pallawa dan berbahasa Sansekerta. Prasasti tersebut menceritakan mengenai Raja Sanjaya yang gagah berani menaklukkan musuh-musuhnya. Raja Sanjaya diceritakan kemudian membangun sebuah lingga diatas sebuah bukit sebagai tanda kemenangannya. Diduga candi ini merupakan tempat didirikannya lingga tersebut. Sayang, lingga tersebut tidak ada. Kini, Prasasti Canggal disimpan di Museum Nasional di Jakarta.

Hujan = Selesai
Karena hujan mulai turun, sudah saatnya aku menggiring anak-anak Dusun Carikan untuk mengakhiri petualangan di siang hari itu. Minimnya literatur di internet mengenai candi ini membuatku bersemangat untuk pergi kemari. Namun, ternyata ada juga blogger yang mengulas Candi Gunung Wukir, walau jumlahnya sangat sedikit. Ya, kadang aku berharap ada banyak literatur mengenai candi, entah itu di toko buku ataukah di internet. Semoga adanya artikelku ini bisa membantu memperkaya khazanah literatur tersebut. Petualangan berikutnya masih di Magelang lho! Nantikan ya!

Gerimis di Hutan dan di Hati...
Ah, gerimis memang menjadi musuh utama no.1 perkara fotografi di luar ruangan. Kalau terpaksa, ya bungkus saja kameranya rapat-rapat dengan lapisan kedap air semisal plastik. Kenapa juga hati menjadi gerimis? Mungkin karena momen yang diharap-harapkan sirna akibat tetesan air hujan, atau mengharapkan momen yang tidak tentu ditengah cuaca yang tidak pasti? Yang jelas tidak lucu kalau harus berbasah-basahan di tengah hutan kala hujan!
  • berjalan sendiri ke gunung wukir dan gerimis? wah romantisnya... menurutku mencintai diri sendiri itu paling sulit, jadi ketika aku punya kesempatan kayak kamu itu aku senang sekali....berjalan sendiri untuk sesuatu
    romantis katamu Mbak E??? Itu bahaya tau...
    emeritaSabtu, 29-Agustus-2009, 23:41
  • Keliru tu mas, bukan jLn. NgLurak tapi jLn NgLuwar...candinya sudah banyak yang runtuh ya??? kerawat ga sih?
    ooo...trima kasih buat koreksinya mbak. Itu candi yang belum dipugar memang seperti itu adanya dan sepertinya sejak dulu batu-batuannya sudah lama hilang.
    ImaSabtu, 10-Oktober-2009, 08:25
  • pernah kesana juga sih.........anda masih untung tidak ketemu kera liar yang cukup banyak loh......n ditemani sama anak yang cukup banyak.....sipppppp
    weh? disana ada kera???
    dwihatmokoSabtu, 09-Januari-2010, 22:53
  • ada juga...saya kesana dua kali......tahun 2002 dan 2003. Kunjungan pertama agak kesasar........dan belum puas bgt karena hujan turun.kunjungan kedua,puas karena keliling seputaran candi dan sempat mampir di juru kunci (tapi lupa namanya), beliau juga perajin batu/arca. Kera ada,karena saya diperingatkan olehnya......setelah di teliti memang ada tanda kera. Terasa ndak unsur mistis disana??? sebab saya ngerasa, sama sperti di Candi Ijo, Candi Barong, dan Kompleks Sengi (Lumbung, Pendem, Asu)
    wah, saya malah dua kali kesana ndak ketemu beliau. Rumahnya juga sepi, diketok ndak ada orang. Jadi ndak bisa buat janji deh. Kalau perkara mistis sih saya bukan orang yang sensitif. hehehe.
    dwihatmokoSenin, 11-Januari-2010, 13:08
  • aku sering main lho ke gunung wukir, emang sih q pernah denger kaya suara kera tp apa bener itu emang kera ya .....,tp kok belum pernah turun ke kampung di bawah e,kan jg deket perkampungan
    Lha? Bukannya kalau ke Gunung Wukir mesti lewat kampung dulu yah?
    gandhiSabtu, 23-Januari-2010, 19:29
  • kemarin baru aja kesitu, emang sama warga di suruh kerumah juru kuncinya, tapi aku milih nyari sendiri dan gak nyasar. Cuman gerbangnya di gembok, jadi cuma bisa liat dari luar deh..
    Kalau ndak ada orang dan berani, bisa loncat pagar :D
    winaSabtu, 24-Juli-2010, 12:02

Nama
E-Mail  
(tidak wajib)
Blog  
(tidak wajib)
Pesan  
(tag HTML yang diijinkan <b>, <i>, <u>)
Kode Verifikasi