Tour de Bali: Hari Kedua @ Tirta Empul
Cuaca di hari kedua kami di Bali sangat kontras dengan
hari pertama. Hari Selasa (03/02/2009) itu seluruh pulau Bali diguyur hujan. Kadang gerimis dan kadang lebat, tapi kondisi itu berlangsung terus-menerus dari pagi hingga sore hari. Kami sih bisa saja diam di rumah Babe Ervan, tapi karena tidak setiap saat kami bisa ke Bali, akhirnya kami memutuskan untuk tetap menjelajah obyek wisata di pulau Bali. Tujuan kami di hari ini sebenarnya ke Tampaksiring, sebuah kota kecamatan di Kabupaten Gianyar. Kota tersebut terkenal dengan
Istana Tampaksiring yang merupakan istana kenegaraan dan sering digunakan oleh mendiang
Pak Soekarno, presiden pertama republik ini. Perjalanan dari Denpasar menuju Tampaksiring ditempuh selama kurang lebih 1 jam, dan dibawah guyuran hujan waktu tempuh seakan-akan bertambah lama.
Air suci bagi warga sekitar.
Mata air utama, Tirta Empul.
Para pengojek payung ini masih anak-anak.
Sembahyang di Bawah Hujan.
Klik Untuk Memperbesar.
Tapi sayang, Istana Tampaksiring tertutup bagi pengunjung umum. Untuk bisa menikmati keindahan istana, harus ada surat pengantar dari Istana Negara di Jakarta atau di Yogyakarta. Apa boleh buat, kami hanya bisa memandangi pagar istana dari dalam sebuah warung sembari menunggu hujan mereda. Ketika hujan mereda, sekitar pukul 14.00, kami melanjutkan perjalan menuju
Tirta Empul yang terletak tidak jauh dari Istana Tampaksiring. Menurut
sumber di internet, Tirta Empul merupakan pemandian suci yang sudah ada sejak abad ke-10 Masehi, seperti yang tercantum dalam
Prasasti Manukaya berangka tahun 962 Masehi. Tirta Empul ternyata memiliki mitos. Alkisah tersebutlah
Raja Mayadanawa yang teramat sakti, ia memerintahkan agar rakyat Bali tidak menyembah para dewata dan malah menyembah dirinya. Para dewata yang mengetahui hal tersebut, mengutus
Batara Indra memerangi Raja Mayadanawa. Dalam menghadapi Batara Indra, Raja Mayadanawa menciptakan air beracun (yeh cetik) yang membuat pasukan Batara Indra tewas setelah meminumnya. Batara Indra lantas menciptakan benteng untuk membendung air beracun tersebut dan dari dalam tanah keluarlah mata air, Tirta Empul, yang kemudian digunakan Batara Indra untuk menghidupkan kembali pasukannya. Di akhir kisah, diceritakan bahwa Raja Mayadanawa tewas ditangan Batara Indra.
Saat ini air pada mata air Tirta Empul dialirkan ke berbagai kolam yang ada di kawasan ini. Masyarakat sekitar banyak yang menggunakan air tersebut untuk keperluan ibadah dan untuk mensucikan diri secara lahiriah dan batiniah. Ada satu kawasan di Tirta Empul yang hanya boleh dimasuki dengan menggunakan pakaian adat. Tetapi jangan khawatir, bagi pengunjung umum disediakan kain yang harus diikatkan di pinggang sebagai ganti pakaian adat. Para pengunjung juga disarankan untuk mengenakan pakaian yang sopan, rapi, dan menutup kaki hingga mata kaki. Untuk masuk ke Tirta Empul, setiap pengunjung dikenakan retribusi Rp 6.000. Oh ya, satu lagi yaitu jangan sembarangan menyentuh benda apapun, khususnya atribut upacara, kalau tidak mau dimarahi oleh para pengawas.
wah,,kapan nih saia bisa ke Bali mas
kapan2 klo da waktu liburan maen sana akh,,
spertinya asik banget mas
asyiknya disana klo kamu mengunjungi tempat-tempat budayanya, lebih asyik lagi kalu kamu ngajak2 saya, heheehe
nyubiMinggu, 03-Mei-2009, 18:23
Kok ga ada foto kita2, wis?
ayo dipasang dong.
apalagi waktu kamu n Winky pakai payung berdua itu, oh so sweet.
seingetku aku nggak pernah foto berdua sama Win yang pakai payung itu