Selamat datang pembaca
di blog saya ini!

Pembaca hendak

Mblusuk


apa, kemana, dan dimana ya

Tour de Bali: Hari Ketiga @ Kuta
RSS 2.0 Flickr Facebook Twitter Yahoo!

Malam Satu Suro


Diawali dari pesan singkat yang sudi mampir ke hapeku hari Kamis Malam (17/12/2009). Sempat khawatir pesannya dikirim oleh lelembut, sebab hari itu pas banget dengan malam Jum’at Kliwon. Namun ternyata yang mengirim adalah sesama penggiat Bike 2 Work Jogja. Isinya ajakan untuk ngumpul di Monumen Satu Maret jam sebelas malam.

 

Aku terakhir kali keluar malam pas Satu Suro itu tahun 2006 silam. Setelah tiga tahun ndak keluar apa ada bedanya ya? Ternyata-eh-ternyata di sekitar Monumen Satu Maret penuh sesak dengan manusia. Apa ini karena hari libur ataukah memang mereka ingin ”merayakan” malam Satu Suro?

 


Ngumpul bareng teman-teman Bike 2 Work.

 

Suro adalah bulan pertama dalam kalender Jawa yang mengadopsi kalender Hijriyah. Urutan bulannya adalah Sura, Sapar, Mulud, Bakda Mulud, Jumadilawal, Jumadilakhir, Rajab, Ruwah, Pasa, Sawal, Sela dan Besar. Dengan kata lain, ini adalah malam tahun baru.

 

Karena mengadopsi kalender Hijriyah yang berlatar belakang agama Islam, maka ”perayaan” tahun baru inipun juga tak lepas dari pengaruh agama Islam. Contoh mudahnya ya banyak digelar pengajian di masjid-masjid. Yang tujuannya agar umat muslim bermuhasabah (mengevaluasi diri). Namun karena di Jogja ini mayoritas masyarakat merayakan dengan mengacu kepada kalender Jawa, jadi ”perayaan” tersebut juga kental akan unsur budaya Jawanya.

 

Yang aku maksudkan adalah ritual Tapa Bisu Mubeng Benteng (ada yang menyebutnya Patigeni). Ritual itu adalah berjalan kaki tanpa bersuara mengelilingi benteng keraton sejauh kurang-lebih 4,5 km. Mushalla disamping rumahku mengadakan ceramah tentang ritual itu yang katanya merupakan perilaku syirik bahkan sia-sia. Tapi menurutku sendiri tidak. Beberapa alasan yang menjadi pertimbanganku:

 

  1. Kapan terakhir kali kita berolahraga dengan berjalan kaki? Sangat jarang bukan? 
  2. Ritual Jawa itu sarat akan makna tersembunyi. Tidak berbicara contohnya adalah upaya menjaga lisan kita dari kata-kata tak terpuji. Selain itu selama berjalan kaki bisa kita pakai untuk merenung dan berdzikir.
  3. Yah tidak bisa sepenuhnya dikatakan syirik karena toh sebelum ritual ini dimulai terlebih dahulu memanjatkan doa kepada Gusti Allah SWT.

 


Ada ambulans yang juga tapa bisa (sirene ndak bunyi) dan juga wanita bule yang sepertinya sudah kelelahan jalan jauh.

 

Aku pikir mungkin ritual ini bisa dikemas lebih menarik. Karena bentuknya mirip lomba gerak jalan, bisa saja toh dibuat semacam lomba. Contohnya peserta dalam grup dipilih yang berbusana terbaik atau yang paling bisa diam sepanjang perjalanan. :D

 

Ah, tapi itu cuma angan-angan kok. Dari seorang manusia pesepeda yang malah ngobrol-ngobrol di pinggir jalan. Eh ya, apa yang pembaca lakukan di Malam Satu Suro kemarin?

  • Menyatakan sesuatu sebagai syirik atau bukan, janganlah dilihat dari apa yang terlihat, tapi coba dalami filosofi yang dikandungnya. Tapa bisu, menurutku bisa berakhir sebagai syirik atau bukan, tergantung dari tujuan yang ingin dicapai. Bila melakukan itu dengan niatan seperti yang dirimu sampaikan di tulisan ini, ya tentunya tidaklah syirik sama sekali.

    Karena aku tidak begitu akrab dengan budaya suro, maka malam kemarin aku justru luput dari peristiwa itu. Setelah menulis postingan soal hijrah, langsung mblusuk ke tempat tidur deh, hehehe... :D

    Selamat tahun baru Wijna...
    Selamat tahun baru juga uda. Terima kasih buat pencerahannya :D
    vizonSabtu, 19-Desember-2009, 05:19
  • malam satu suro aku tidur, tapi selama tidur HPku
    bunyi2 terus tapi aku cuekin :p

    monumen satu maret tu mana ya mas? perempatan nol
    kilometer bukan?

    kalo olahraga jalan kaki, aku tiap hari ituh, belum
    lagi ditambah beban tas yang berattt banget :D
    kok kamu gak ngucapin met tahun baru ke aku sih mas??
    Monumen Satu Maret itu dekat simpang empat Kantor Pos Besar. Jalan kaki sejauh 4 km sehari apa pernah? Aku ndak ada kebiasaan ngucapin selamat tahun baru ke orang.
    septia raniMinggu, 20-Desember-2009, 14:33
  • Lama ga berkunjung.

    Eh, aku setuju. Kayane dulu pas diciptakan juga maksudnya buat merenung tafakur gitu deh. Kan kalo orang diem ga boleh ngobrol, jatuhnya pasti mikir atau ngelamun.. :)
    Selamat datang kembali :D. Pemikiranmu bagus juga Nur.
    nurSenin, 21-Desember-2009, 08:32
  • ulasane hebad......
    matur nuwun mbah
    suwungSelasa, 22-Desember-2009, 09:16
  • malam 1 syuro aku abiskan dgn nonton tipi hohoho ngga penting bgt
    sangat Nyai sekali :p
    iesSelasa, 22-Desember-2009, 10:35
  • ada potoku ada potoku...cantiknyaaaaaaaa
    Perasaan saya ndak menampilkan foto Indomie goreng deh.
    indomielezatSenin, 04-Januari-2010, 13:47
  • 1 Suro kmaren ntn Suzana dan Om Bokir...
    heheh
    Malam satu Suro dimana-mana penuh hantu rupanya :p
    RySenin, 04-Januari-2010, 18:35

Nama
E-Mail  
(tidak wajib)
Blog  
(tidak wajib)
Pesan  
(tag HTML yang diijinkan <b>, <i>, <u>)
Kode Verifikasi