Selamat datang pembaca
di blog saya ini!

Pembaca hendak

Mblusuk


apa, kemana, dan dimana ya

Candi Bojongmenje
RSS 2.0 Flickr Facebook Twitter Yahoo!

Perihal Dokumentasi BCB


Dikisahkan, ada seorang wisatawan yang berkunjung ke Keraton Ratu Boko. Tak ubahnya wisatawan lain, ia juga membawa serta kameranya. Saat membayar retribusi, perihal kamera sama sekali tak disinggung. Namun saat ia hendak pulang, barulah petugas menyodorinya dengan daftar harga yang dikenakan pada kamera.

 

Pengalaman buruk bagi pengunjung obyek pariwisata bukan?

 

Seminar dari MADYA

Curahan hati semacam itu terumbar dalam seminar Dokumentasi Dalam Pelestarian Benda Cagar Budaya (BCB .red), yang merupakan salah satu rangkaian acara peringatan ulang tahun pertama Masyarakat Advokasi Budaya (MADYA .red). Seminar bebas biaya tersebut digelar pada hari Kamis sore (7/1/2010) dan bertempat di ruang F Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta. Aku ucapkan terima kasih pada Tiwi, personil B2W yang sudah mengabarkan adanya acara ini.

 

Seminar tersebut menghadirkan dua pembicara; Bu Wiwiek dari Balai Konservasi Borobudur, dan Mas Dwi Oblo selaku fotografer majalah National Geographic Indonesia.

 

Bu Wiwiek lebih banyak menjelaskan perihal Benda Cagar Budaya dan mesin 3D Laser Scanning seharga 3 Milyar (wuih!) yang merupakan bantuan dari UNESCO. Sedangkan Mas Oblo lebih menekankan kepada peran fotografi dalam dokumentasi benda cagar budaya.

 

hasil dari 3D Laser Scanning
Hasil dari 3D Laser Scanning.

 

Dilarang Motret Candi?

Namun yang menjadi pertanyaan adalah, “Bolehkah Benda Cagar Budaya didokumentasikan?”.

 

Sebab, tak jarang muncul kasus tak menyenangkan seperti contoh di awal artikel ini. Seakan-akan menjadi tidak boleh atau harus ada kompensasi tertentu.

Apa sebab kameranya terlihat canggih nan mewah?
Apa sebab khawatir muncul efek negatif–semacam pencurian arca?
Ataukah karena ingin terciprat lahan basah?
Entahlah.

 

Namun yang pasti, seperti kata Mas Oblo, mendokumentasikan BCB tidak boleh sembarangan. Sebab dokumentasi dapat menjadi media promosi, yang akan mengundang masyarakat untuk berkunjung kesana. Sehingga masyrakat akan lebih mengenal dan mecintai budaya negerinya sendiri, Indonesia. Yang seperti ini tidak diperbolehkan?

 

yang penting motret candi
Ah, peduli amat dengan aturan. Yang penting motret! hehehe.

 

Nah, berhubung di blog ini ada banyak dokumentasi mengenai benda cagar budaya, apakah pembaca jadi tertarik untuk berkunjung kesana?

  • Ga masalah kok kita mendokumentasikan siapa tahu kelak akan ada jejak atas peninggalan yang tiba tiba raib toh dah ada dokumentasi berupa fhoto dan tulisan oleh blogger seperti disini

    lanjut terus masalah aturan selama ga nyinggung KUHP heheheh jepret terussss
    jepret terus? siap! :D
    omiyanKamis, 14-Januari-2010, 15:59
  • keren nih si om
    sayang dak ngajak-ngaak saya
    lha wong aku diajaknya mendadak je.
    annosmileKamis, 14-Januari-2010, 21:40
  • OOT nih.
    saya suka themes blog ini.
    salam kenal
    salam kenal juga
    antokoeKamis, 14-Januari-2010, 23:15
  • kadang aku sebel juga dg larangan motret di situs2 bersejarah gitu, padahal dg material foto itu aku bisa ikut bantu2 menyiarkan kekayaan budaya kita dan promo via internet.
    Apa sebab yang punya situs bersejarah ini negara? tp kok negara seakan ndak ngurus yah? :p
    fahmi!Jum'at, 15-Januari-2010, 05:55
  • menjawab pertanyaan terakhir: tertarik, IYA. Tapi ga ada waktu dan biaya... :p
    hahaha, kalau liburan dunk!
    nurJum'at, 15-Januari-2010, 07:30
  • Bagus, Na. Saya jadi punya ide buat bikin tulisan di blog baru. Saya nggak suka dilarang-larang motret. Saya kepingin mengingat apa yang pernah saya lihat, dan kadang-kadang pengelola cagar budaya tidak memberikan dokumentasi yang memadai tentang itu.

    Tapi saya geli membaca kasus di atas, Na. Sejak kapan motret harus mbayar? Kalau memang dokumentasi itu dipamerkan untuk alasan komersial, jual sajalah fotonya. Tidak usah pakai acara menge-charge kamera segala.
    Mungkin pihak pengelola ingin mendapatkan pemasukan tambahan? Jadi kamera dianggap serupa dengan orang :p
    Vicky LaurentinaJum'at, 15-Januari-2010, 09:05
  • Justru dengan dokumentasi yang dirimu muat di blog ini Wij, kita jadi tahu tentang cagar budaya tersebut, dan semakin ingin mengunjunginya suatu saat. Aku termasuk yang protes soal larang-melarang itu
    Terima kasih ya Uda :D
    vizonJum'at, 15-Januari-2010, 13:17
  • horotoyoh...apalagi nih,semakin canggih cari peluang untuk pendapatan
    hahaha, sepertinya begitu Bu, maklum bangsa kita kan paling pinter soal akal-akalan :D
    MurwaniJum'at, 15-Januari-2010, 15:30
  • wah mas saya sepakat, kalo blog ini nyajiin benda-benda prubakala. saya kangen dengan benda-benda itu....
    Blog Jejak Annas juga meliput benda-benda bersejarah di Majalengka dunk, biar makin banyak referensinya di jagat maya :D
    jejak annasJum'at, 15-Januari-2010, 18:33
  • pantes masuk Prambanan dikasih tiket buat moto,
    dulu sih

    tapi ya gitu aja, boleh motret sepuasnya, lagian bagus kan buat nyebarin info gitu :)
    Kalau tiket kamera buat turis asing katanya lebih mahal lagi lho mas.
    warmJum'at, 15-Januari-2010, 19:55
  • Gw juga heran, kenapa tempat wisata yang milik bersama, milik bangsa, musti bayar untuk bawa foto. Kalo yang bangun candi dan tempat wisata lainnya itu swasta, baru wajar ditarikin duit, toh itu milik mereka... tapi ini kan milik bangsa.

    Gw Juga heran, waktu ke prambanan, ada tempat buat nonton film **di museumnya** tapi begitu Gw tanya, "bisa donlot atau beli CDnya gak?" eh jawabannya "Gak mas, kalo ada, nanti gak ada yg mau nonton disini lagi" bah.. komer-sial-isasi ilmu pengetahuan.
    Nah kan, kalau semua dikaitkan dengan uang, hasilnya cuma perkara untung atau rugi. Beh!
    Gandi WibowoSabtu, 16-Januari-2010, 00:16
  • Asli.. baca2 blog lu pengen ngunjungin koq!
    and gak ada niat mencuri arca lhoooo bener deh :)
    apa kata-katanya Mba Eka bisa dipercaya ini? :D
    Eka Situmorang-SirMinggu, 17-Januari-2010, 15:25
  • nek kamerane di delikke mesthi ra dikon mbayar :D
    pengen ngunjungin, tapi belom ada kesempatan, atau aku sendiri yang tidak menciptakan kesempatan itu, hehehe.
    Motretnya harus sembunyi-sembunyi atau kameranya dimasukin tas.
    tiaSelasa, 19-Januari-2010, 14:13
  • kameranya dimasukin tas..
    kan kalo di prambanan atau borobudur diperiksanya cuman di pintu masuk, lagian kalo udah di dalem objek wisatanya gak ketauan.
    tapi kalo kameranya gedhe kayak punyamu itu ya bakal ketauan karena tasnya juga diperiksa :P
    Kamera HaPe malah lolos dari pemeriksaan :(
    ranystarryRabu, 20-Januari-2010, 12:25
  • Aku mesti nyembunyiin kamera n handycamku di tas kl masuk Prambanan, Borobudur, Boko. Bukane gag mau bayar, tp aneh deh masak moto2 dari kamera qt dewe aja disuru bayar. Untung gag prnh diperiksa. Jan aneh.
    Ide yang bagus untuk ditiru :D
    DittaKamis, 21-Januari-2010, 14:46
  • berarti Anda kurang beruntung :p
    Dicobalah lagi lain kali
    ranystarrySenin, 25-Januari-2010, 16:57

Nama
E-Mail  
(tidak wajib)
Blog  
(tidak wajib)
Pesan  
(tag HTML yang diijinkan <b>, <i>, <u>)
Kode Verifikasi