Selamat datang pembaca
di blog saya ini!

Pembaca hendak

Mblusuk


apa, kemana, dan dimana ya

Candi Borobudur
RSS 2.0 Flickr Facebook Twitter Yahoo!

Berobat Gigi…OH NO!


Suatu hari Selasa di bulan Februari saat aku sedang mengikuti kuliah Aljabar Linear Terapan, aku merasakan ada sesuatu yang aneh dengan gigiku. Mulanya aku cuek saja, pikirku mungkin itu adalah sisa-sisa makanan yang terselip. Namun tidak beberapa lama kemudian...duh! Aku merasakan ada sesuatu yang pecah di dalam mulutku. Dengan segera otak ini langsung mengambil keputusan bahwa yang pecah adalah gigi. Wuaaaaa! 5 menit, 10 menit, 15 menit aku masih bisa bersabar. Namun kok rasanya tidak hanya ada yang pecah tetapi juga ada yang bergoyang. Duh! Aku tidak bisa bersabar lagi dan langsung melesat ke kamar kecil di tengah-tengah perkuliahan.

Patah atau Goyah ?

Di kamar kecil, aku langsung menghadap wastafel dan membuka mulutku lebar-lebar. Beberapa mahasiswa yang berpapasan denganku tampak heran. Mungkin mereka mengira kuda nil dari kebun binatang Gembiraloka lari ke kampus MIPA Selatan. Setelah sekian menit berkaca, aku masih berasumsi bahwa gigiku retak dan hendak patah. DuH! Apa boleh buat sepanjang hari itu aku sambat ke setiap orang yang kutemui bahwa gigiku bermasalah.

Setibanya aku di rumah aku langsung mengecek kondisi sebenarnya dari gigiku tersebut. Ternyata gigi tersebut tidak retak. Gigi yang kumaksud adalah gigi geraham kedua dari belakang di mulut bagian bawah. Gigi tersebut sebelumnya memang pernah dirawat syaraf namun belum sempurna. Bagi yang belum tahu rawat syaraf adalah proses untuk mematikan syaraf pada gigi. Tanpa syaraf, gigi tidak akan terasa sakit namun gigi juga tidak ada nutrisi yang mengalir pada gigi. Akibatnya kalau gigi sudah dirawat syaraf maka gigi tersebut akan rapuh. Pada proses rawat syaraf, bagian tengah pada gigi akan dibuang dan digantikan dengan taambalan. Sehingga gigi yang telah dirawat syaraf sejatinya akan terbelah dua. Dan itulah yang terjadi pada diriku...hikz!

Karena itu kuputuskan bahwa tanggal 11-13 Maret aku akan kembali ke Jakarta untuk berobat pada tanteku yang juga dokter gigi yang bernama Bu Amiek. Aku tidak mau sembarangan memilih dokter gigi karena dokter-dokter gigi yang kutemui selalu mengeluh tentang anatomi gigiku yang aneh. Mereka menuding masa laluku yang tidak senonoh dalam merawat gigi.

Penderitaan Dimulai!


Bu Amiek sedang merawat pasiennya.
Bu Amiek bekerja di klinik gigi Departemen Kehutanan. Kalau para pegawai yang ingin berobat harus mendaftar terlebih dahulu. Tapi kalau aku sih tinggal menyelonong masuk ruangan praktek saja, hehehe. Setelah berbasa-basi dengan para staff klinik, dengan pasrah aku berjalan ke kursi pasien yang berarti detik-detik penderitaanku akan segera dimulai. Pertama-tama Bu Amiek akan memeriksa kondisi “gua medan tempur”-nya terlebih dahulu. Setelah sedikit mengeluh maka penderitaan pertamaku dimulai, scaling. Scaling adalah proses pembersihan karang gigi. Kalau bagi beberapa orang tidak sakit tapi bagiku sakit! Bukan ketika alat scaling menyentuh gigi namun ketika alat scaling menyenggol bagian gusi yang pasti menyebabkan gusi terluka dan berdarah. Kalau sudah begini mulutku sering tidak bisa membuka lebar sehingga Bu Amiek jadi kesusahan dan mengomel-omel.

Setelah karang gigi selesai dibersihkan aku boleh lega karena proses selanjutnya tidak terlalu menyakitkan yaitu proses memoles gigi. Nah, setelah gigi bersih dari karang gigi dimulailah penderitaan kedua yang sifatnya opsional yaitu...menambal gigi yang bolong! Wuaaaa! Semua orang tahu kalau anak kecil takut di-Bor, istilah mereka untuk proses penambalan gigi. Masalahnya aku juga merasa kesakitan ketika di-Bor, jadi mau tidak mau ruangan praktek sering dipenuhi oleh teriakanku. Hehehe. Sebenarnya proses pem-Bor-an adalah proses untuk menghilangkan kotoran di lubang gigi agar nanti tambalannya steril dan tidak mudah lepas.


Bu Letty, rekan kerja Bu Amiek yang cantik tapi galak!
Khusus kali ini siksaan bertambah menjadi tiga yaitu pencabutan gigi. Karena gigi yang goyah hanya satu sisi jadi kupikir yang dicabut hanya bagian gigi yang goyah saja. Tetapi sesuai aturan kedokteran gigi...seluruh gigi yang patah tersebut harus dicabut! Tidaaak! Ini gila...tetapi Bu Amiek dengan senyuman sinisnya mengatakan bahwa proses tersebut tidak sakit karena gusiku akan dibius terlebih dahulu. Memang sih proses pencabutan tidak terasa sakit namun membuat hati dag-dig-dug. Pasalnya akar gigi yang hendak dicabut tersebut sangat sulit untuk dicabut. Sehingga gusiku harus disayat untuk mempermudah mengeluarkan akar gigi. Selama pergulatan tersebut bu Amiek hanya mesam-mesem saja, apalagi bu Bulan rekan kerja bu Amiek juga ikut nimbrung dan mengkeruhkan suasana menakut-nakuti aku. DUUUH!

Akhirnya...

Akhirnya, setelah siksaan-siksaan yang memakan waktu 1,5 jam gigiku sudah beres (untuk sementara waktu). Sekedar informasi bahwa dengan demikian aku telah kehilangan dua gigi (warna merah) yang dua-duanya diakibatkan oleh gigi berlubang (duh!). Asal tahu saja, gigiku tersebut dirawat syaraf gara-gara ada lubang di gigi tersebut dan sukar untuk ditambal sehingga gigi tersebut terpaksa harus “dimatikan”. Sedangkan yang berwarna ungu adalah gigi yang ditambal pada hari itu. Pesan yang bisa diperoleh dari kisah ini tidak lain adalah “sikatlah gigi sebelum tidur” dan “periksakan gigimu ke dokter minimal 6 bulan sekali”. Jangan seperti saya!
  • iklan layanan masyarakat ini dipersembahkan oleh :
    mawius.
    Berapa kali sehari kamu merawat gigi Pin?
    ipin maripinSabtu, 22-Maret-2008, 08:36

Nama
E-Mail  
(tidak wajib)
Blog  
(tidak wajib)
Pesan  
(tag HTML yang diijinkan <b>, <i>, <u>)
Kode Verifikasi