Candi Ijo
Menutup perpisahan sementaraku dengan Andreas (karena aku hendak KKN 2 bulan), kami kembali melangsungkan hajat rutin kami apalagi kalau bukan eksplorasi dan memotret candi. Suasana langit kota Yogyakarta sepertinya berpihak kepada kami, hari Selasa (17/06/2008) dan Rabu (18/06/2008) langit kota Yogyakarta berada dalam kondisi
perfect blue sky. Gunung Merapi dan gunung Merbabu pun bisa dilihat dengan mata telanjang dari pusat kota. Hari Kamis (19/06/2008) kami memutuskan untuk berangkat hunting, walau beberapa sudut langit sudah mulai dihiasi oleh awan-awan kecil
Bukit IjoUntuk menuju ke Candi Ijo, Andreas memasrahkan rute perjalanannya kepadaku. Kok tumben, ya karena Andreas lupa membawa peta ke Candi Ijo. Alhasil dengan insting tersasar-ku yang sudah terlatih, Alhamdulillah kami sampai dengan selamat ke Candi Ijo walau harus ditebus dengan motor Andreas yang batuk-batuk selama mendaki Bukit Ijo.
Candi induk pada Candi Ijo.
(Klik untuk memperbesar).
- Dari Yogyakarta, berangkat melalui jalan Solo.
Sampai di lampu merah pasar Prambanan, belok ke kanan (selatan) menuju jalan Jogja-Piyungan dan ikuti jalan tersebut.
- Saat ada papan petunjuk untuk belok ke kiri menuju Keraton Ratu Boko, jangan ikuti papan tersebut melainkan tetap ikuti jalan Jogja-Piyungan.
- Saat ada papan petunjuk untuk belok ke kiri menuju Candi Ijo, maka ikuti petunjuk tersebut.
- Ikuti terus jalan yang kanan-kirinya merupakan sawah itu. Bila anda takut tersasar, jangan takut untuk bertanya pada warga sekitar. Bila jalur yang anda lalui benar, maka anda akan mengikuti jalur menanjak bukit (namanya Bukit Ijo). Ikuti terus jalur menanjak tersebut sekitar 10 menit untuk sampai ke area Candi Ijo. Secara administratif Candi Ijo berada di Desa Sambirejo, Kec. Prambanan, Kab. Sleman, Yogyakarta.
Arca Padmasana dan Nandini yang
ada di candi perwara tengah.
Relief kura-kura dan naga pada lingga-yoni di candi induk.
Pagar batu yang mengelilingi teras ke-11
beberapa diantaranya masih terpendam tanah.
Bangunan di teras ke-9, yang lantainya merupakan
perpaduan batu alami dan batu yang dibentuk.
Salah satu bangunan candi yang ada di teras ke-8.
Dahulu dipakai untuk apa ya ?
Komersil ?Di Candi Ijo, kami disambut oleh Pak Saimin selaku satpam Candi Ijo. Untuk pertama kalinya di berbagai kunjungan candi, kami ditanyai apakah hasil foto kami untuk konsumsi pribadi atau untuk dikomersilkan. Kalau untuk dikomersilkan, maka tidak diperkenankan. Aku cukup kaget dengan pertanyaan tersebut, karena setahuku obyek-obyek candi lain bebas untuk difoto bahkan untuk dikomersilkan. Aku jawab saja bahwa kami berdua mahasiswa UGM tahun terakhir yang berniat melancong ke candi-candi sebelum kelulusan kami. Dengan alasan itu tidak membuat Pak Saimin berhenti mengikuti setiap jejak langkah kami menyusuri candi. Bukan kenapa-kenapa sih, tetapi agak risih saja kalau terus-menerus diikuti. Tetapi beruntunglah dengan adanya Pak Saimin, aku bisa mendapatkan secuplik informasi mengenai Candi Ijo.
11 Teras
Candi Ijo sebenarnya merupakan sebuah kompleks candi-candi yang terletak di bukit berundak. Candi induknya sendiri berada pada bukit (disebut juga dengan teras) ke-11. Candi Induk tersebut menghadap ke arah barat dan memiliki struktur yang merepresentasikan gunung Mahameru. Di dalam Candi Induk sendiri terdapat lingga-yoni berukuran besar yang bentuknya nyaris serupa dengan lingga-yoni di dalam
Candi induk Sambisari. Di sekitar candi induk terdapat tiga buah candi perwara yang masing-masing dari candi berisi yoni, arca nandi, arca padmasana, dan sebuah lubang pembakaran. Candi Ijo merupakan candi Hindu dan mungkin digunakan untuk menyembah dewi kesuburan.
Wait for Us
Ketika kami berkunjung, sedang ada rekonstruksi pagar pembatas candi induk. Karenanya area di sekitar candi induk terlihat kotor dengan berbagai batu kali dan pasir. Di teras-teras yang lain, hanya terlihat batu-batu candi yang belum tersusun. Sebenarnya kami masih ingin menjelajah keseluruhan kompleks candi, namun berhubung Pak Saimin mengingatkan kalau jam berkunjung berakhir pada pukul 17.30 maka kami harus segera mengakhiri kegiatan hunting foto. Saat menuruni bukit Ijo, kami beruntung menyaksikan senja yang sangat indah.
Update!
Untuk kedua kalinya, pada hari Selasa (21/04/2009) kami berkunjung ke Candi Ijo. Di kunjungan kedua ini, kami menyempatkan diri untuk menjelajah ke-11 teras yang ada pada Candi Ijo. Pada teras ke-9 dan 8 terdapat reruntuhan bangunan candi yang seluruhnya memiliki pintu masuk menghadap arah timur. Menurut papan informasi, di teras ke-5 dan ke-9 pernah ditemukan arca. Kalau melihat dari jumlah bangunan candi yang ada di teras ke-9, ke-8, dan juga ke-5 (cukup jauh dari candi induk), diduga Candi Ijo merupakan suatu kompleks peribadatan yang terletak di atas bukit. Apabila diperhatikan juga, Candi Ijo merupakan candi hindu dengan candi induk terbesar kedua setelah Prambanan dan juga ukuran lingga-yoni di candi induk adalah yang terbesar dibandingkan candi-candi Hindu lain disekitarnya.
Eh, mampir bentar deh... :P
Mau nanya pertanyaan bodoh yang ga penting: Kira2 kenapa bangunan peribadatan lama macam candi2 dan kuil2 itu rata2 dibangun di atas bukit/gunung?! Apa biar berasa sakralnya, mengingatkan bahwa untuk mencapai surga (puncak gunungtempat yang tenang) harus melalui perjuangan berat (naik gunung capek!)?! (sekedar pengin tahu, kan kamu yang lebih ahli) ^-^
Orang jaman dulu kan punya keyakinan,
tempat paling tinggi = gunung = rumahnya dewa-dewa.
Selain itu sih seperti jaman sekarang, bangunan candi atau kuil itu dekat dengan sumber mata air.
hikariKamis, 23-April-2009, 07:24
wuih..jadi malu niy. sebagai orang Jogja asli, aku malah lom pernah ke Candi Ijo. padahal dulu pas masih kuliah, sring banget nglewatin route ke Candi Ijo, Prambanan-Piyungan. cuman liat papan namanya doank.
Kayaknya di daerah sekitar situ masih banyak candi2 kecil. udah dijelajahi semua lom tuw?
Candi-candi kecil yg kamu maksud itu mungkin candi-candi kecil di teras Candi Ijo bukan? Kalau candi-candi lain disekitar Candi Ijo, yang masih utuh beberapa udah dikunjungi, selebihnya hanya tinggal sisa satu-dua bebatuan saja.
weksKamis, 23-April-2009, 09:56
Ya, bangunan suci biasanya berada di tempat tinggi karena keyakinan bahwa gunung merupakan tempat bersemayamnya para dewa, dan candi sebagai media penghubung dunia manusia dan dewa. Coba aja berjalan ke candi-candi tadi dari Pasar Prambanan pasti terasa nuansa religiusnya.
Sepaham deh sama mbah Andre. Tapi Ndre, klo buatku dari Pasar Prambanan pasti dah terasa gethuk Prambananannya. Piye dong?
andreasJum'at, 24-April-2009, 15:27
beruntung...disana udah dipugar...meski belum komplit semua...saat kesana dulu, baru Candi induk yang masih berdiri, yang lain masih tahap pemugaran......
ya, saya pernah lihat fotonya di blog sampeyan :)