Diterbitkan:
Selasa, 17-Januari-2012, 11:18 WIB

Dilihat:
98 kali

Polah Patai Hatimu Perlu Saya Tampar!

Saya ini Wijna. Saya punya kawan. Dia sedang gundah. Dia baru patah hati. Entah bagaimana ceritanya. Itu saya tidak tahu (dan juga tidak mau tahu).

Namun, yang saya tahu adalah dirinya mulai galau. Sejauh yang saya amati lewat jejaring sosial Facebook, dirinya kerap menerbitkan status yang beraroma kekecewaan dan keputus-asaan.

Saya paham dan saya mengerti. Sebagai seorang pria lajang yang pernah patah hati saya tahu bagaimana gejolak perasaannya. Sebagai seorang kawan, saya hanya bisa menyemangatinya untuk tetap sabar. Sebab saya bukan dewa yang bisa membereskan keadaan seperti sebelum dirinya patah hati.

Hingga kesabaran saya mulai diuji. Pelampiasannya untuk menghalau gejolak di hatinya menurutku sedikit di luar batas. Dia mulai meresahkan. Bersikap tidak pantas pada teman-temannya. Seolah-olah semua hal yang dirinya lakukan halal atas dasar klaim “baru patah hati”.

Jadi, saya berniat untuk menampar kawan saya itu, entah di pipi yang kanan atau yang kiri, pokoknya saya tampar. Walau entah kapan kami akan bertemu, yang jelas kawan saya itu sudah masuk daftar orang wajib tampar. Walaupun dia wanita tetap ingin saya tampar. Walau pada akhirnya hanya saya tampar dalam hati saja.

Semoga tamparan saya itu bisa jadi obat aspirin yang cespleng bagi patah hatinya. Membuat kawan saya sadar, untuk tidak lagi berperilaku menjatuhkan harga dirinya sendiri, mencitrakan dirinya sebagai seorang pecundang, di hadapan orang-orang di sekelilingnya, terutama "dia" yang telah membuat kawan saya patah hati.